• REGISTER
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Pelestarian Pusaka dan Penguatan Budaya

Pada masa dimana pembangunan ekonomi dan prasarana fisik menjadi prioritas utama, program-program penguatan budaya agak tersisih ke pinggiran. Berbagai sumberdaya digelontorkan untuk mendorong kemajuan ekonomi dan pembangunan prasarana fisik sehingga perkembangan sosial-budaya jauh tertinggal. Perlahan angin baru berhembus.. Angin itu makin menguat pada tahun 2007 saat Presiden mencanangkan upaya menyambut ekonomi gelombang keempat. Antara lain Presiden menyatakan:” Ekonomi gelombang ke-4, menurut pendapat saya, adalah kelanjutan dari ekonomi gelombang ketiga dengan orientasi pada kreativitas, budaya, serta warisan budaya dan lingkungan. Tekanan saya justru pada aspek budaya dan warisan budaya atau heritage dan lingkungan. Ajakan itu, pertama, mengembangkan ekonomi kreatif, dengan memadukan ide, seni dan teknologi. Selanutnya ditambahkan “Kita bisa. Kita tidak boleh kalah dengan bangsa dan negara lain untuk membangun dan mengembangkan ekonomi kreatif ini. Kedua, mengembangkan keunggulan produk ekonomi yang berbasiskan seni budaya dan kerajinan. Kembangkan ekonomi warisan. Benda-benda sejarah dan purbakala kita sangat luar biasa, mari kita kembangkan termasuk tradisinya, adatnya, yang masih kita kenali, agar itu sekali lagi menjadi daya saing dalam ekonomi baru di negara kita.



Ada upaya untuk membangunkan mereka yang sudah lama terlena, bahwa kreativitas, budaya, serta warisan budaya dan lingkungan dapat menjadi pendorong pembangunan ekonomi. Tampaknya pernyataan itu memang lebih ditujukan pada dunia usaha yang kurang memanfaatkan kegiatan, produk dan peninggalan budaya. Kegiatan yang bertumpu pada pemikiran dan karya kreatif belum diolah dan dikembangkan secara maksimal. Masih banyak peluang yang disia-siakan. Masih banyak aset yang sangat berharga dibiarkan hilang, rusak, punah, terabaikan, tanpa upaya pelestarian yang memadai. Sejalan dengan seruan Presiden itu Kementerian Perdagangan telah mencoba melakukan berbagai tindak lanjut antara lain dengan mengadakan penelitian, inventarisasi, diskusi-diskusi, pembinaan, pameran, dan komunikasi yang intensif. Beberapa komponen tampaknya sudah mulai tergerak, tetapi perjalanan masih panjang. Bidang pariwisata berusaha memanfaatkan aset budaya sebagai daya tarik kunjungan wisata. Dilancarkan promosi yang menonjolkan kekayaan budaya Indonesia. Tampaknya kampanye itu kurang bernafas panjang dan sekarang gaungnya kurang terdengar lagi.

Perlu diingat bahwa disamping upaya penggarapan manfaat ekonomi dari berbagai potensi budaya perlu ditekankan pula penggarapan pembangunan karakter dan jatidiri bangsa, penguatan kualitas sumberdaya manusia yang tangguh, dinamis, kreatif dan mampu menyelesaikan berbagai masalah dengan bijak. Perlu diingat bahwa sumberdaya budaya tidak hanya menyumbangkan manfaat ekonomi. Lebih penting lagi, dan ini merupakan fungsi utamanya, sumberdaya budaya harus dapat meningkatkan kualitas kehidupan, memperkuat nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Pengembangan ekpresi dan apresiasi budaya akan memperkuat kepekaan pada nilai-nilai, mendorong dinamika, dan meningkatkan kreativitas. Masyarakat yang peka, dinamis, kreatif, dan tahan uji adalah kekuatan utama dalam pembangunan di segala bidang. Dengan masyarakat yang tidak peka menangkap peluang dan tidak peka memahami sistem nilai, masyarakat yang statis tidak punya keinginan untuk maju, masyarakat yang tidak kreatif yang tidak mampu membuat terobosan baru menembus kebuntuan, masyarakat yang cepat putus asa dan cepat menyerah dalam menghadapi tantangan, Indonesia tidak akan mampu membangun dalam dalam arus perubahan global yang semakin cepat. Jika Indonesia ingin maju, kita mutlak memerlukan kualitas manusia yang tangguh itu. Kita lihat banyak bangsa-bangsa yang tidak mempunyai kekayaan alam telah mampu maju pesat, sementara banyak negara yang kaya dengan sumber daya alam tetapi terus berputar-putar tanpa mampu memecahkan masalah yang sekian lama mengungkungnya.

Kualitas sumber daya manusia yang terkandung dalam budaya bangsa merupakan kekuatan utama yang mutlak diperlukan dalam pembangunan di segala bidang. Pertanian memerlukan ketelatenan dan kepekaan memahami gejala alam, industri memerlukan kecermatan dan efisiensi, pembangunan ekonomi memerlukan etika bisnis yang tidak saling mematikan, pemerintahan memerlukan kebijakan manajemen yang adil, pembinaan keluarga perlu dibimbing oleh budi luhur dan kasih sayang, politik harus mampu membangun sinergi bersama tanpa larut berkepanjangan dalam perebutan kursi. Semua itu hanya dapat berkembang dalam budaya yang kondusif, suatu tatanan kehidupan yang positif yang mampu mendorong terus peningkatan kualitas kehidupan masyarakatnya. Budaya yang positif ini tidak terjadi secara kebetulan, yang datang tiba-tiba tanpa dibangun dan diperjuangkan oleh masyarakatnya. Budaya ini merupakan hasil pembangunan budaya yang bersungguh-sungguh. Pada masa Orde baru pembangunan budaya sering ditolak masyarakat seniman dan budayawan karena dipaksakan dalam arah dan bentuk yang digariskan oleh pemerintah, yang kemudian memasung kreativitas yang seharusnya dapat berkembang. Pembangunan budaya yang diharapkan sekarang justru pembangunan yang mendorong kreativitas, yang menjamin berkembangnya proses yang positif dalam perkembangan budaya.

Pembangunan budaya dapat kita bagi dalam dua bagian. Pertama, adalah menghimpun, menghayati, mencintai, dan melestarikan aset budaya yang diraih dari perjalanan sejarah yang panjang di masa lalu. Kedua, memelihara, mengolah dan mengembangkan aset budaya yang ada (yang lama dan yang baru) menjadi kekuatan yang menopang pembangunan kedepan menuju masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan beradab. Pembangunan kedua tanpa menggarap yang pertama, tanpa melestarikan, memahami, dan memanfaatkan pengelaman sejarah adalah seperti orang kehilangan ingatan, orang yang tidak mengenal dirinya, atau orang yang tidak pernah belajar dari pengalamannya. Pemahaman mengenai apa yang telah kita raih di masa lalu menyimpan banyak sekali pelajaran yang berguna, menyimpan bukti sejarah yang penting, menyimpan kenangan bersama (collective memory) yang membangun kebersamaan, menguatkan percaya diri dan keyakinan untuk maju kedepan. Aset ini perlu difahami dan dimanfaatkan masyarakat kita sekarang dan generasi mendatang. Generasi yang akan datang juga mempunyai hak untuk menikmati dan memanfaatkan berbagai aset sejarah dan budaya itu.

Sementara itu upaya pelestarian saja tanpa menghubungkannya dengan kehidupan nyata masa kini, tanpa menyiapkannya sebagai bekal pembangunan kemasa depan adalah seperti pandangan ”katak dalam tempurung” yang berpuas diri dengan dunianya yang sempit tanpa melihat peluang pengembangannya di dunia yang luas, tanpa mengajak masyarakat memahami apa manfaat yang dapat disumbangkannya pada masa kini dan masa depan. Pusaka dari masa lalu jangan dibiarkan sebagai benda lusuh yang tersingkir di sudut ruang yang kumuh dan gelap. Pusaka masa lalu harus dibawa kedalam dinamika kehidupan keseharian masa kini, dan menjadi bagian yang bermakna dalam kehidupan itu. Sesuatu yang sangat bernilai itu harus dapat dinikmati oleh masyarakat dan difahami perannya sebagai bekal pengembangan kehidupan kedepan. Pusaka yang tidak mempunyai makna dan manfaat bagi kehidupan masa kini dan masa depan akan dilupakan dan ditinggalkan oleh masyarakatnya. Karena itu dalam upaya pelestarian aset dari masa lalu kita perlu memahami liku-liku kehidupan masa kini dan kerangka budaya yang menyeluruh. Kita harus memahami kerangka pembangunan budaya yang menyeluruh itu agar kita dapat menempatkan upaya pelestarian sebagai bagian yang bermanfaat. Kita harus turut berbicara mengenai pembangunan budaya kedepan agar sumbangan dari upaya pelestarian aset tidak sia-sia.

Suatu organisasi kecil mungkin ingin membatasi diri pada sektor yang kecil saja, tetapi pemerintahan suatu negara harus melihat gambaran yang menyeluruh dan menggerakkan roda pemerintahannya untuk membangun kedua sisi itu yaitu pelestarian aset masa lalu dan pembangunan budaya ke depan. Jika pemerintah hanya menggarap sisi pelestarian saja, ia mungkin melupakan upaya membangun dinamika ke depan. Sebaliknya jika pemerintah hanya menggarap sisi pembangunan ke depan saja mungkin ia akan tersesat, berputar-putar dan tidak mencapai tujuannya karena melupakan berbagai pengalaman berharga dari masa lalu. Banyak ”pembangunan” yang dengan ceroboh menabrak begitu saja karya yang sangat bernilai yang dibangun dengan susah payah dimasa lalu yang sebetulnya merupakan sumberdaya yang tak terbarukan. Pemerintah harus terus mendorong dan mendukung upaya pelestarian, dan sekaligus menempatkannya dalam perspektif pembangunan kedepan yang menyeluruh. Kedua sisi ini tidak boleh terpisah sendiri-sendiri. Pengkotakan birokrasi tidak boleh memecah belah kehidupan yang utuh. Untuk ini dibutuhkan koordinator yang benar-benar memahami kedua sisinya, dan tidak sekedar melakukan itu karena jabatannya. Kita telah mengalami banyak kesulitan karena tembok-tembok batas yang dibangun oleh ego sektoral.

Bagaimana mengembangkan konsep dan upaya pelaksanaan pendekatan kedua sisi itu perlu dibahas secara mendalam bersama-sama, Peta komprehensif dari kedua sisi itu harus digambar dan ditelaah bersama. Dibutuhkan suatu ”isyarat” Presiden kepada seluruh jajaran birokrasi dan masyarakat luas pada umumnya yang menekankan bahwa:

  • budaya bangsa adalah totalitas cipta, rasa, karsa, dan karya masyarakat, yang merupakan sumberdaya utama dalam pembangunan nasional
  • sumberdaya itu dapat dibangun dari pelestarian aset masa lalu serta pengolahan dan pengembangan masa kini
  • untuk pelestarian perlu diperkuat proses inventariasi, pengkajian, penetapan, perlindungan dan pemanfaatan yang berkesinambungan
  • pelestarian harus digarap sekaligus dalam kerangka pembangunan budaya ke masa depan
  • berbagai lembaga harus memperhatikan dan mendukung tujuan pelestarian dan sekaligus mendorong dinamika penguatan budaya
  • diperlukan koordinasi yang efektif, menembus batas sektor, saling mengisi, saling mendukung
  • diperlukan koordinator yang mampu menyerap aspirasi berbagai fihak dan men-sinergikan kegiatan lintas sektor
  • pembangunan budaya harus masuk kedalam arus utama (mainstream) pembangunan, tidak tersisihkan di pinggiran yang statis.
  • para Menteri dan pimpinan lembaga lainnya dituntut untuk menyajikan program lembaganya yang terkait dengan pelestarian dan penguatan budaya.
  • Berbagai organisasi masyarakat diharapkan mengawal dan mendorong gerakan ini.


Jakarta, 20 Mei 2010

Suhadi Hadiwinoto

Ratusan pegiat, pakar, dan praktisi pelestarian pusaka Indonesia telah bergabung sebagai Anggota BPPI.
Gabung Sekarang!

Testimoni

Pusaka mencakup pula perilaku dan nilai luhur masyarakat yang harus dilestarikan

- I Gede Ardika, Ketua Badan Pelestarian Pusaka Indonesia

Media Pusaka